Rain Point of View

“Waa,… cepat… cepat…. hampir telat nih… “, kukayuh sepeda gunung biru pemberian ayahku, memotong jalan, menyerong tikungan, beberapa kali menyalip sepeda motor dan mobil yang mengantri. Hari itu adalah hari paling sibuk untuk semua orang, yep,… hari senin. Which mean... aku ga boleh telaatttt.... bisa dibunuh ama tatib sekolah menengah pertama 1 malang. Hari ini upacara dan tatib serta satpam siap kapan saja menutup pagar sekolah dan memberiku catatan merah.
Aku melihat Gereja yang terletak di Boulevard utama kota ini, pertanda kira2 50 meter sampai di sekolahku. Aku menerobos jalan searah samping gereja memanfaatkan sepeda yang tidak dianggap kendaraan bermotor. Peduli amat, kalo ada polisi tinggal turun dan pura-pura menuntun sepeda, pikirku. Tapi itu tak terjadi, aku lolos sampai di tikungan terakhir sebelah utara sekolahku.
Kulihat jam di tanganku 06.29, damn. Kulihat depan sekolahku masih ramai dengan mobil tapi tak kusangka ternyata Pak Rochim, guru agama yang terkenal tegas di sekolahku telah menjaga gerbang depan yang menghadap ke barat. Murid-murid yang datang setelah dia keluar pagar dia bariskan, pertanda mereka akan mendapatkan kengerian sebuah keterlambatan.
Aku mengerem dengan rem tangan dan bak di film2 aku memutar sepeda pancalku ke arah berlawanan dari sekolahku. Aku ingat bahwa di selatan sekolahku yang merupakan parkiran sepeda dan sepeda motor biasanya lolos dari perhatian dan pagarnya tidak terlalu tinggi. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu. Aku segera bergegas memutari sekolahku dan sampai di selatan sekolahku. Sepi. Ini dia, pikirku.
Aku mulai menjalankan rencana kreatifku yang boleh dibilang dengan bahasa lain, gila. Aku merapat ke pagar persis di sanping parkiran sekolahku. Kulihat lagi samping kanan kiriku. Hanya terdengar hiruk pikuk khas sekolah yang akan mengadakan upacara. Upacara belum dimulai, pikirku, masih ada kesempatan. Dengan segenap tenaga aku mengangkat sepeda gunungku, berat tapi masih tertahankan. Aku memegang bagian leher depan sepeda itu dan menaikkan roda depannya melewati pagar. Kutumpukan sepeda itu di bagian pagar yang datar lalu dengan carayang sama kunaikkan roda belakangnya melalui pagar. Kutahan sebisa mungkin agar tidak menimbulakn suara dan mendaratkan sepedaku dengan mulus. Tanpa seorang pun tahu apa yang kulakukan. Aku melompati pagar itu dengan mudah dan bersyukur atas fisik yang sehat. Aku mengunci sepeda pancalku dengan rantai dan dengan santai berjalan cepat melalui bagian belakang sekolah menuju ruang kelasku yang terletak dekat mushola.
Aku berjalan melalui area dimana ruang kelas bisa meng-cover-ku dari pandangan mereka yang sedang berupacara, dan memang ruang kelasku dibelakangi barisan. Aku melewati lorong panjang depan kelasku, bangga karena telah bisa mengakali keterlambatan dengan suatu cara yang spekatukuler, menurutku. Hanya aku yang tahu hal ini... pikirku, tapi ternyata tidak.



Aggpov Point of View

”Hah... terlambat lagi Ren?” kataku, “Tidak pernah berubah”
”Darimana kamu tahu Ga? Aku baru saja sampai, tak mungkin kamu melihat apa yang kulakukan”Rendy berkata dengan agak cemas.
”Di satu sekolah ini satu2 nya yang masih menyandang tas mungkin hanya kau seorang. Mereka yang tertangkap terlambat saja sudah berbaris di barisan pelanggar. Kuakui kamu memang agak nekat, tapi entah kenapa kau selalu bisa menghandle keadaan.”aku diam sejenak.”Tenang lah aku takkan berkata apapun, kau temanku, aku akan bersiap dengan pasukan pengibar bendera.”kataku dengan penuh wibawa,”Kau tahu maksudku kan?<
”Ure the Best, Ga” kata Rendy tampaknya tahu maksudku.
Kalau Rendy memang menangkap maksudku maka dia akan bergegas dan mengikutiku bersiap bersama pasukan pengibar bendera dan masusk ke barisan kelasnya tanpa siapapun curiga. Benar saja, dia melakukan persis seperti yang kupikirkan. Rendy telah masuk ke barisan teman sekelasnya, kelasku juga, dan sekarang saatnya berkonsentrasi dengan tugasku.
Aku adalah pemimpin upacara saat itu, Di sebelahku berdiri 3 pengibar bendera dan 1 pendamping pembina upacara. Aq menyuruh mereka untuk meluruskan barisan dan melakukan pengecekan terakhir terhadap atribut mereka. Protokol mulai bicara dan mengatur jalannya upacara dan aku mengikuti setiap perintah protokol. Suaraku yang kencang menggema ke seluruh sekolah. Keheningan terjadi, aku menikmati suasana ini, suasana dimana aku bisa memimpin dan membuat sekumpulan orang bisa bersatu tujuan dan pandangan. Upacara berlangsung khidmat dan tenang.
Aku bisa melihat Rendy bekerdip kepadaku dan mengacungkan dua jempolnya saat dia berbaris rapi menuju kelasnya mungkin tanda terima kasih pikirku.
Aku melepaskan atribut pemimpin upacaraku dan mengganti celana putih pendekku dengan celana pendek biru. Khas smp di kota ini. Aq berjalan menuju lorong tempat aku bertemu Rendy tadi pagi saat tiba-tiba pengurus kemahasiswaan meraih mike yang masih ada di mimbar upacara dan berkata ”Pagi ini akan ada rapat dewan guru. Pelajaran sampai istirahat pertama ditiadakan, kalian boleh beristirahat tetapi tidak boleh pulang, terima kasih wassalamualaikum wr.wb.” Anak-anak langsung kegirangan dan menghambur keluar kelas untuk beristirahat yang bahkan belum memulai pelajaran.
Aku menuju lapangan basket untuk duduk2 bersama teman saat tiba2 kulihat ada 2 kaki keluar dari jendela kelasku padahal kelasku cukup tinggi. ”Yo...” kata pemilik kaki itu...



Nuzhael point of view

“Rendy terlambat lagi?”Tanyaku dengan cool kepada Aga. Aku memang suka dipandang cool misterius dimana semua orang tidak bisa menebak apa yang kurasakan, kupikirkan dan apa yang akan kulakukan.
”Kau sudah bertemu dengannya?”tanya Aga
”Belum tapi aku bisa menebaknya dari sikapnya yang berlebihan saat upacara.”aku diam sejenak,”Kuulangi, dia selalu berlebihan” kali ini sedikit senyum tesungging di bibirku.
”Aku tak akan menyanggah untuk yang satu ini,”kata Aga tenang”Apa yang akan kaulakukan sekarang? Tidak ada pelajaran kan?”
”Semua orang bisa mendengarnya,”kataku”Entah apa yang akan kulakukan.”Aku berkata sambil turun dari jendela yang lumayan tinggi, Aga kaget dan mundur selangkah.”Mungkin yang pertama adalah mengambil buku biologi yang dipinjam Rendy kemarin, kau tahu kan jam terakhir nanti ada ulangan(mungkin)”
Tiba-tiba aq setengah berteriak”Rendyyyy,... buku bio-ku lempar keluar!”kataku tanpa menoleh.
”Kau bahkan tak melihat ke dalam kelas, bagaimana kau tahu Rendy baru masuk kelas?”Aga keheranan.
Sesuatu melayang keluar jendela kelas dan kutangkap dengan sigap.
”Thx Nus”kata Rendy dari dalam kelas.
”Satu2nya cowok di kelas yang bisa membawa 3-5 cewek bercanda sambil tertawa dan membuat mereka tersipu secara bersamaan hanya Rendy kan? ”kataku yakin sambil membolak-balik buku biologi itu, aku menikmati ekspresi heran aga.
”Yah kau benar,”kami tertawa,” baiklah aku akan ke sanggar pramuka dulu, ada yang harus ku cek” Aga berkata sambil pergi.
Aku mengambil tempat duduk di pot yang dibentuk seperti kursi yang ada di pohon besar dekat kelasku, bersandar pada batang pohon itu, pada musim kemarau seperti ini batang pohon itu tidak akan mengotori bajuku. Baru kubaca 2 halaman, tiba2 aku diajak teman2 satu sekolahku untuk bermain sepakbola. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya, laki-laki mana yang mampu?
Aku termasuk berbakat dalam olahraga, sepakbola, bulutangkis terutama, mungkin tidak basket karena aq tidak setinggi anak2 tim inti basket. Aku menerima operan dari back timku, menggocek sedikit bolanya, melakukan overlap dan dribble yang tak tersentuh dan di saat ada kesempatan aku menendang, tapi sialnya ada gundukan pada lapangan basket itu yang membuatku kehilangan keseimbangan dan membuat arah bolanya bukan ke gawang tapi melenceng jauh ke arah jendela kelasku tempat aku keluar tadi... ups sepertinya bola itu mengarah ke....



Arday Point Of View

BRUAKKK.... DUKKK...... Sesuatu menghantamku dan membuatku terjatuh dari kursi. Aku melihat ada yang memantul di depanku dan itu adalah bola plastik merah yang aku yakin menghantamku. Aku berdiri dan mengusap-usap kepalaku, yang sakit bukanlah yang terkena bola plastik melainkan terbentur meja. Mengira tak ada yang memperhatikan aku salah, smua orang yang ,melihat kejadian ini tertawa terbahak-bahak.
”Hei lain kali berhati-hatilah saat bermain bola”,kataku dengan wajah kalem dan tanpa ketegasan, aq memang tak suka mencari masalah. Aku mengembalikan bola itu ke lapangan, berusaha setenang mungkin agar tawa itu tidak berlanjut.
Aku mendengar Nusan berkata”Maaf teman-teman aku akan menemani korbanku dulu, kalian teruskan saja main bolanya,” tak sulit mencari pengganti nusan karena lapangan yang kecil tak mungkin menampung semua laki2 di sekolah ini
”Eddo? Maaf aku tidak sengaja tadi, aku salah sasaran”kata Nusan.
”Untuk sesaat ku kira kau akan bilang tepat sasaran,” kami tertawa.
”Apa yang sedang kau gambar itu? Pelajaran kesenian tidak ada karena rapat guru kan?”tanya Nusan heran, biasanya orang lah yang heran kepada Nusan pikirku.
Aku menggaris satu kali lagi sebelum menjawab pertanyaannya,”Aku sedang menggambar sketsa rumah impianku, Aku ingin suatu saat rumahku seperti ini.” Kataku sambil betul-betul berharap itu bisa terjadi,
Nusan memperhatikan dengan seksama gambar dari Eddo,”Menarik..”kata Nusan.”Ini menggambar perspektif kan?”Nusan menyimpulkan dari bekas titik dan garis yang disebut sudut pandang, halus dan bekas terhapus.
”Ya, entah kenapa dari semua pelajaran kesenian yang ada, aku hanya suka 2 dari mereka, Menggambar perspektif dan musik, gitar terutama.”Itu memang benar.
”Aku bisa menggambar sepertimu persis mungkin, tapi aku tak bisa menikmatinya sepertimu, dan kebanyakan orang memilih menggambar pemandangan.”Kata Nusan lagi.
”Yah tapi aku suka perencanaan, banyak sekali perencanaan dan ide-ide di otakku yang ingin kuwujudkan, dan aku bisa menyusunnya dengan rapi, menjadi sebuah prioritas,”kataku bingung mengapa dia bisa menjelaskan sesemangat itu.
”Termasuk belajar?”tanya Nusan, mengernyitkan dahi.
”Untuk itu tidak termasuk, kurasa” mereka berdua tertawa.
Tenngggg...... Bel berbunyi 1x tanda istirahat telah usai.
Aku melihat teman-temanku yang ada di luar berangsur-angsur masuk ke kelas. Aku melihat Rendy masuk sambil bercerita kepada 2 orang teman cewekku dan mereka seperti serius mendengarkan tiap kata Rendy, Aga menyusul di belakang dengan langkahnya yang tegap, mungkin terbawa sikap sempurnanya tadi pagi pikirnya. Dan Nusan yang dari tadi duduk di jendela turun dan masuk ke kelas.
Saat itu tas2 masih berserakan dimana-mana karena tadi pagi tidak ada pelajaran, kalau tasku sudah di kursiku, aku tidak beranjak dari sini setelah upacara tadi, mungkin sesaat saat aku terjatuh karena bola plastik merah yang ditendang Nusan. Tak sadar aku mengusap kepalaku dan mendapati Nusan menahan tawa melihatnya.
”Do, boleh aku duduk di sebelahmu, mungkin aku bisa ngobrol denganmu, dan lagi setelah ini wali kelas kita dengan pelajaran Bahasa Indonesianya yang membosankan itu.”Nusan menawarkan sambil menggantungkan tasnya di bahu.
”Silahkan” kataku, dia duduk di sebelahku.
Tiba-tiba Aga datang dan mengambil tempat duduk di belakangku, dia menatap kosong ke jendela sesaat.
”Ga bagaimana aku harus berterima kasih atas pertolonganmu tadi pagi?”Tanya Rendy sambil langsung duduk di sebelah Aga, tasnya dilemparkan begitu saja.
”Apa yang kau tawarkan?”Aga mengakhiri tatapan kosongnya,aku dan Nusan memperhatikan mereka.
”Hmm kalau saja ini di zaman kerajaan aku akan mengabdi padamu sebagai tangan kananmu, sayangnya ini bukan zaman itu...”Kata Rendy, kata2nya mendramatisir seperti biasa.
”Mungkin tidak jelek juga punya budak sepertimu,” Aga menyeringai lebar, aku dan Nusan menahan tawa.
”Eitss... orang kepercayaanmu, bukan budakmu,”Terlihat Rendy agak sebal dengan gurauan Aga namun wajahnya langsung berubah menjadi senyum lagi.
”Idenya tidak jelek juga” Nusan menambahkan,”Entah kenapa aku juga ingin semacam... bersahabat dengan kalian, aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa sudah akrab sekali dengan kalian, walaupun sebelum ini kita tidaklah sedekat ini.”
”Maksudmu aku jadi budak itu bagus?”tanya Rendy lagi.
”Mungkin...”kata Nusan. Kami tertawa bersama.
”Yah kalau memang begitu aku merasa sama dengan kalian, aku mengusulkan persahabatan kita dilambangkan dengan ksatria dan kita harus mereprentasikan diri kita di dalamnya.”Mereka tampak heran aku yang biasanya tidak terlalu banyak bicara bisa mengemukakan sesuatu yang seserius ini.”Mungkin bisa kita pakai filosofi ini untuk nama kita?”
”Aku setuju,”kata Aga, dia telihat berwibawa saat berkata begitu,”Mari kita pikirkan namanya... ehhmmmmm apa ya?” kami berpikir bersama tapi tak menemukan jawabnya, hingga....



Vahn Point of View

Aku mengikuti guru yang katanya akan menjadi wali kelasku. Aku diperkenalkan orang tuaku ke sekolah ini minggu lalu. Aku R. Trivano, aku memutuskan untuk sekolah satu kota dengan kakak2ku walaupun ayah ibuku berdomisili kalimantan-jakarta. Kakak2ku selalu bercerita betapa nyamannya sekolah di kota Malang ini dan aku benar-benar ingin bisa sekolah disini.
Ibu guru ini agak ketus menurutku, aku kurang suka itu tapi aku tetap suka suasananya dan merasa akan mempunyai teman dan masa-masa menyenangkan di sini, di kota ini, di sekolah ini. Aku mengikuti langkahnya dengan agak memperlambat langkahku sendiri. Ibu guru ini tampak agak malas menurutku. Dia membawa berkas di tangan kirinya dan melangkah gontai setengah terpaksa memasuki ruangan kelas yang kubaca di papan atasnya III-A. Aku memutuskan menunggu di luar.
Ibu guru itu memberi salam kepada anak-anak di kelas itu dan mereka melakukan hal yang sama. Dia memberitahu bahwa akan ada murid baru pindahan dari kalimantan yang akan bergabung dengan kalian di kelas III-A. Seketika itu aku bisa membayangkan kalo muka smua murid-murid di dalam kelas itu pandangannya teralih ke pintu. Dipanggilnya namaku oleh Ibu Guru itu, dan aku masuk ke kelas itu.
Aku memperkenalkan diriku setengah gagap dan memperhatikan 40-an orang yang duduk dan memperhatikanku seakan-akan ingin mengetahui lebih banyak tentang diriku. Tiba-tiba aku tersadar ada 4 orang yang memperhatikanku lebih dari yang lain. Tatapan mereka tampak seperti ”Wah ini dia” pikirku, Ibu Guru mempersilakan aku mencari tempat kosong agar pelajaran bisa dimulai. Tempat kosong itu ada di belakang kanan dan kiri, yang di kiri bersebelahan dengan cewek-cewek yang lumayan manis dan sebelah kanan tepat di belakang 4 cowok yang masih menatapku sedari tadi. Sadar kalau Aku memilih duduk di sebelah cewek-cewek tadi akan mengundang masalah dan gunjang-ganjing, aku memilih duduk di belakang 4 cowok tadi. Kalau situasinya lain aku sudah pasti akan memilih tempat duduk bersama cewek-cewek itu dan mulai mendekati mereka. Aku tidak bisa membiarkan ada cewek yang menganggur, hahahah.....
Aku duduk dan memberi salam kepada sekitar tempat dudukku. Memperkenalkan namaku dan mereka memperkenalkan nama mereka. Aku kurang ingat yang sebelah kananku tapi aku jelas-jelas ingat 4 orang yang ada di depanku. Rendy,Aga,Nusan dan Eddo mereka tampak ramah, dan jelas ingin segera mengutarakan sesuatu padaku.
”Sebuah kebetulan,”Eddo memulai pembicaraan.”Namamu Trivano, benar?
”Benar panggil saja Vano”kataku ramah.”Kebetulan?”
”Ya, mulai hari ini kami berempat akan mengikat persahabatan karena kami merasakan adanya ikatan erat yang membuat kami merasa dekat satu sama lain”Rendy menjelaskan panjang lebar dengan mimik seriusnya.
”Dan kami rasa kau juga ditakdirkan untuk mengikuti kami, membuat suatu perkumpulan, bukan geng tentunya, kami tidak suka istilah itu.”Nusanberkata tanpa melihat wajah Vano.
”Ya dan Entah kenapa kami semua setuju bahwa kau akan menjadi anggota ke-5”Aga menoleh dan menatap mata Vano”Tertarik?”
Aku terdiam sejenak dan mereka juga. Ibu Guru di depan masih membuka-buka bukunya tampak bingung akan apa yang akan ia ajarkan. Di sisi lain aku entah kenapa merasa terhormat diajak dalam ikatan persahabatan itu. Mereka baru 1 menit mengenalku tapi ingin aku jadi sahabat mereka? Tak ada kehormtan yang lebih dari itu untuk anak baru. Aku kira aku akan di-bully sebagai bentuk ospek kepindahanku, tapi ternyata aku langsung mendapatkan sahabat. Setengah terharu dan tak ingin terlihat yang lain aku berkata,”Aku terima kita ber-5 bersahabat mulai sekarang”.
”Sip”kata Rendy.
”Nice” kata Nusan.
”Oke”kata Eddo
”Bagus, sekarang kita pikirkan namanya”Aga tanpa memerintah membuat mereka semua memutar otak.
”Tunggu, kalian semua pernah memainkan game Warcraft bukan?”tanya Eddo tiba-tiba.
”Tentu saja, tentang perang zaman sihir dan pedang itu kan? Aku paling suka pemanahnya.”kata Rendy bersemangat.
”Itu dia dalam setiap game, novel, film dan cerita epik manapun akan selalu ada pahlawan bukan?”Eddo melanjutkan merasa sahabat-sahabatnya kini mengerti apa yang ia maksud.”Karena kita berbeda dari yang lain dan telah mengikat persahabatan dan ingin agar persahabatan ini tak pernah hancur, kita beri diri kita sendiri gelar yang menandakan kalau kita istimewa, itulah kita... FIVE HEROES (5H).”
”Seperti biasa perencanaan yang sempurna sahabatku, bagaimana yang lain?”tanya Nusan.
”Tidak ada nama yang lebih bagus dari itu”sahut Rendy.
”Terima kasih atas ajakan kalian, aku sangat suka nama itu membuat kita terkesan kuat dan punya sejarah yang melegenda,”kataku masih setengah terharu.
”Sudah diputuskan, Ikatan persahabatan kita bernama FIVE HEROES, LIMA PAHLAWAN dan ikatan ini tak akan pudar sampai kapanpun...”Aga berkata bak pemimpin yang akan membawa kami ke medan perang.

Kami semua mengangguk setuju....

End...